Tahap perkembangan bahasa atau tahap belajar berbicara pada anak balita harus diperhatikan sedini mungkin karena tahap ini dapat dijadikan sebagai parameter ada atau tidaknya gangguan perkembangan pada si kecil. Pada 3 tahun pertama kehidupannya, otak manusia merupakan organ yang mengalami perkembangan dan pertumbuhan sangat cepat dan pesat.
Pada periode perkembangan pesat inilah, Bunda dapat memanfaatkannya sebaik mungkin untuk menstimulasi si kecil. Perkembangan bahasa pada si kecil dimulai pada usia 0-12 bulan dan stimulasi yang diberikan haruslah sesuai dengan rentang usianya. Jika si kecil yang masih bayi terlalu diam atau jarang mengoceh seperti bayi lain, deteksi sedini mungkin dengan membawanya segera ke dokter untuk mendapatkan intervensi atau penatalaksanaan stimulasi. Karena kondisi ini dikhawatirkan sebagai tanda atau gejala terlambat bicara yang disebabkan oleh beberapa gangguan, salah satunya yaitu autisme atau sindrom antisosial.
Biasanya gejala awal autisme muncul saat si kecil berusia 2 tahun. Hal ini dapat terlihat dari keengganannya untuk berkomunikasi atau berbicara dengan orang lain sehingga terkadang si kecil yang menyandang autisme tidak menyatu dengan lingkungan dan akibatnya orang tua sulit memahami keinginan dan mengetahui apa yang dibutuhkan si kecil. Untuk memudahkan Bunda mengajak si kecil penyandang autisme berkomunikasi lebih baik, ikutilah beberapa tips dari sekolah autis D’Knot berikut ini:
- Bicaralah sebagai sahabat, karena anak balita penyandang autisme lebih menaruh perhatian pada orang tua yang menempatkan dirinya sebagai sahabat, bukan sebagai orang tua. Cobalah Bunda perhatikan, si kecil akan lebih menaruh perhatian saat berbicara dengan sahabatnya.
- Jika si Kecil sedang sibuk, jangan memulai pembicaraan terlebih dahulu, tunggulah hinga ia siap mendengarkan Bunda dan pastikan Bunda sudah mendapatkan perhatian penuh darinya, misalnya dengan mematikan radio atau tv.
- Sesuaikan pemilihan kata dengan usianya dan sampaikan pesan dengan suara jelas, berintonasi, juga singkat, misalnya ‘Ayo makan siang sekarang, yuk!”. Lalu, biasakan berbicara hanya sekali saja dan buat si kecil mendengarkan dengan saksama. Jika menunda, maka berikan hukuman non fisik.
- Biasanya si kecil penyandang autisme lebih menyukai membaca dan mendengarkan musik daripada berbicara. Bunda dapat memperdengarkannya musik dan membacakannya sebuah dongeng atau cerita.
- Ajaklah si kecil untuk mengikuti setiap kegiatan yang ia gemari.
Hal terpenting yang harus Bunda ingat dalam menghadapi si kecil yang menyandang autisme adalah Bunda harus selalu berkomunikasi dengannya setiap hari dan harus menjadi teladan untuknya dengan membiasakan diri untuk fokus mendengarkannya saat berbicara, maka ia akan mencontoh apa yang Bunda lakukan. Sumber: www.dechacare.com/Tips-Agar-Anak-Autis-Mau-Diajak-Bicara-I793.html www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/rajinlah.ajak.bayi.bicara/001/007/1010/3/4

