Karena sistem kekebalan tubuhnya yang belum sempurna, bayi memang lebih rentan terhadap alergi, mulai dari alergi pada bahan makanan tertentu hingga asma. Salah satu alergi yang cukup umum dialami bayi adalah alergi susu sapi yang terjadi pada 2-3% bayi. Alergi susu sapi biasanya terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bayi melakukan kesalahan dan menganggap bahwa protein pada susu sapi sebagai zat yang harus dilawan oleh tubuh.
Hal ini memicu reaksi alergi seperti sakit perut, ruam popok, dan lain-lain. Bayi yang mengalami alergi pada susu sapi biasanya juga akan mengalami reaksi alergi pada protein susu kambing, dan bahkan pada protein susu kedelai. Gejala alergi susu sapi bisa langsung dialami bayi hingga sekitar 7-10 hari setelah bayi mengonsumsi susu sapi atau susu formula. Beberapa gejalanya termasuk diare, muntah, tidak mau makan, hingga masalah kulit bayi seperti eczema dan ruam popok.
Kalau keluarga Bunda atau Ayah memiliki sejarah alergi susu sapi atau Bunda curiga si kecil mengalami alergi susu sapi, konsultasi ke dokter anak adalah cara terbaik untuk mengkonfirmasi atau membantah dugaan tersebut serta mencari solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini. Solusi yang umumnya diberikan dokter anak untuk bayi yang mengalami masalah alergi susu bergantung pada konsumsi susu si kecil.
Bila si kecil hanya mengonsumsi susu formula, dokter anak akan menyarankan Bunda untuk mengganti merk dan tipe susu formula yang Bunda berikan pada si kecil. Bisa jadi dokter akan menyarankan susu kedelai. Tapi, jika si kecil juga alergi pada protein susu kedelai, dokter anak mungkin akan menyarankan susu formula hydrolysate yang protein susunya lebih terurai sehingga menurunkan risiko reaksi alergi.
Sedangkan kalau si kecil mengonsumsi ASI, dokter anak akan menyarankan Bunda untuk tidak mengonsumsi susu maupun produk susu apapun. Jika solusi ini yang diberikan dokter untuk Bunda, mintalah saran pada dokter tentang sumber kalsium yang terbaik bagi Bunda selain dari susu dan produk susu.
Risiko masalah alergi susu sapi biasanya lebih rendah pada bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif. Seiring pertumbuhan si kecil, alergi ini biasanya akan menghilang dengan sendirinya, biasanya pada usia sekitar 3-5 tahun. Tapi pada beberapa anak, alergi susu sapi akan menetap hingga ia dewasa. Yang penting adalah mengatasinya dengan baik sehingga alergi susu sapi yang dimiliki si kecil tidak akan membahayakan kesehatannya dan si kecil tak perlu mengalami reaksi alergi seperti ruam popok atau pun diare.
Sumber: kidshealth.org/parent/medical/allergies/milk_allergy.html whattoexpect.com/first-year/feeding-your-baby/milk-allergy-in-infants.aspx

