Tiap anak mulai berbicara pada saat yang berbeda-beda. Ada yang sudah mulai mengucapkan kata pertamanya saat berumur 9 bulan, sedangkan ada yang baru menggumamkan beberapa kata pada ulang tahun kedua-nya.
Lambat bicara memang menjadi gejala awal masalah pertumbuhan, tapi bisa juga sekedar karena orang tua tidak mengenali tanda-tanda awal bicara dari si kecil atau si kecil tidak merasa termotivasi untuk mempelajari bahasa. Beberapa cara yang bisa Bunda lakukan untuk mendorong proses bicara si kecil di antaranya adalah:
- Gunakan kalimat pendek yang sederhana, misalnya ‘Ambil sepatumu’. Jangan gunakan dengan lebih dari 1 perintah pada 1 kalimat
- Gunakan intonasi yang jelas, terutama saat berbicara dengan si kecil. Hindari bicara bayi yang dicadel-cadelkan. Bila si kecil mengasosiasikan sesuatu dengan bahasanya sendiri, ulangi kata tersebut dengan kata yang benar. Misalnya, bila dia bilang ‘Num’ ketika minta minum, Bunda bisa mengatakan, “Num? Kamu minta minum?”
- Gunakan 1 bahasa di rumah untuk menghindari kebingungan bahasa
- Ingat bahwa anak-anak belajar melalui pengalaman langsung. Jadi Bunda bisa menunjukkan barang-barang yang diasosiasikan dengan suatu kata. Misalnya, saat berjalan-jalan, Bunda bisa mengatakan ‘Bunga’ sambil menunjukkan bunga asli pada si kecil.
Mengucapkan suatu kata hanyalah 1 aspek dari pembelajaran bahasa. Bila si kecil mampu berinteraksi, merespon, serta mengasosiasikan kata dengan pengalaman, Bunda tidak perlu khawatir. Tapi bila si kecil sama sekali tidak menunjukkan kemampuan berkomunikasi, tidak merespon orang lain, dan tidak mau menunjuk atau mengangguk, sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan dokter anak. Dialah yang akan menentukan apakah si kecil perlu dirujuk untuk diperiksa perkembangan bicaranya.
Sumber: http://o5.com/toddler-wont-talk-4-facts-for-worried-parents/

