Zwitsal | Mempersiapkan si Calon Kakak

30 July 2017

Kedatangan bayi baru dapat membawa banyak perubahan pada sebuah keluarga. Bunda dan ayah akan menghabiskan banyak tenaga dan pikiran pada persiapan menyambut bayi. Bahkan setelah bayi lahir, perhatian keluarga juga akan lebih banyak tersalurkan pada si bayi baru.

Semua perubahan ini akan sulit dicerna anak-anak, para calon kakak.  Mereka cenderung akan memiliki perasaan iri terhadap bayi yang baru lahir dan akhirnya bisa bersikap lebih rewel dan susah diatur karena mencari perhatian.

Agar situasi ini dapat dikendalikan, bunda dan ayah harus mempersiapkan calon kakak dalam menyambut anggota baru keluarga. Ajak mereka membahas kehamilan seputar hal yang dapat mereka pahami. Bunda juga bisa mengajak calon kakak untuk menyusun sebuah rencana pengaturan yang melibatkan mereka dalam merawat bayi baru lahir.

Selama Kehamilan Mungkin bisa dibilang tak ada waktu yang tepat atau satu cara sempurna untuk memberitahu anak tentang kehadiran calon adik. Saat akan mendiskusikan kehamilan, pertimbangkan tingkat kenyamanan bunda sendiri dan tingkat kematangan si calon kakak. Misalnya, anak-anak prasekolah belum memahami konsep waktu, sehingga ia tidak akan paham kalau bunda menjelaskan bayi akan tiba dalam waktu beberapa bulan. Lebih baik jika memberi penjelasan si bayi akan tiba di satu waktu tertentu, seperti,”Setelah kakak berulang tahun” atau “Setelah kakak masuk sekolah.” Atau “Saat pohon rambutan di depan rumah kita berbuah” dan lain-lain.

Sedetil apa informasi yang harus bunda berikan? Coba biarkan si calon kakak bertanya dan gunakan pertanyaan itu sebagai panduan bunda untuk memberi penjelasan. Misalnya, anak 4 tahun mungkin akan bertanya,”Adik bayi datang dari mana?” Ia mungkin tidak mengharapkan bunda memberi penjelasan mengenai seks, tapi bunda bisa memberi penjelasan secara harafiah, seperti,”Bayi berasal dari rahim yang ada di dalam perut bunda.” Anak yang gemar bertanya tentu akan memberikan pertanyaan selanjutnya, jadi persiapkan diri bunda ya!

Jika si calon kakak tampak tertarik pada bayi, coba lakukan kegiatan ini bersama dirinya untuk mengenal lebih jauh lagi mengenai bayi:

  • Perlihatkan foto-foto si calon kakak saat ia masih bayi
  • Membaca buku tentang persalinan (pastikan isi buku sesuai dengan tahapan perkembangan si calon kakak)
  • Mengajaknya mengunjungi teman-teman bunda yang memiliki bayi
  • Menyiapkan tas untuk persiapan melahirkan di rumah sakit
  • Mencarikan nama buat si adik bayi
  • Ajak mengunjungi dokter saat memeriksa kandungan sehingga ia bisa mendengarkan detak jantung calon adiknya

Rencana Menyambut Kelahiran Saat sudah semakin dekat hari kelahiran, buat rencana untuk calon kakak apabila bunda harus menginap di rumah sakit. Diskusikan rencana ini sehingga mereka tahu apa yang harus mereka lakukan ketika saatnya tiba. Susun rencana buat si kakak untuk mengunjungi rumah sakit tak lama setelah adik bayi lahir. Saat yang ideal adalah di luar jam kunjung tamu sehingga memberikan privacy dan waktu yang intim bagi keluarga.

Cobalah untuk menjaga rutinitas seperti biasa pada hari-hari dan minggu-minggu mendekati saat kedatangan bayi. Jika bunda berencana untuk membuat perubahan tata ruang rumah dalam rangka menyambut bayi, lakukan beberapa minggu sebelum tanggal kelahiran.

Jika calon kakak sedang dalam tahap perkembangan utama, seperti sedang melakukan potty training atau belajar tidur sendiri, coba untuk melakukan perubahan-perubahan ini sebelum tanggal kelahiran atau menunda sampai setelah bayi sudah di rumah dan keadaan rumah sudah tertata.

Membawa Pulang si Adik Bayi Setelah bayi pulang ke rumah, bunda dapat membantu si kakak untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Libatkan mereka sesering mungkin dalam kegiatan mengurus bayi sehari-hari, sehingga mereka tidak merasa ditinggalkan.

Banyak anak-anak ingin membantu mengurus bayi baru. Meskipun "bantuan" itu akan mengulur waktu bunda, namun ini merupakan kesempatan bagi si kakak untuk berinteraksi dengan bayi dengan cara yang positif. Si kakak bisa saja membantu bunda menghibur bayi selama kegiatan mengganti popok, membantu mendorong kereta, berbicara dengan bayi, atau membantu pakaian, mandi, atau bahkan membantu bayi bersendawa.

Namun, bunda juga harus paham, jika kakak tidak menunjukan minat pada adik bayi, jangan khawatir dan jangan memaksa. Si kakak butuh waktu untuk menyesuaikan dirinya dengan kehadiran adik bayi.

Ada juga saat-saat yang tidak bisa melibatkan si kakak, seperti saat menyusui. Pada saat seperti ini, mungkin bunda bisa mengajaknya duduk tenang di sebelah bunda sambil membaca atau bermain mainan yang tenang sehingga bunda bisa tetap menyusui tanpa terganggu dan tidak perlu merasa khawatir akan mengganggu perasaan si kakak.

Cobalah juga untuk meluangkan dan memanfaatkan waktu dengan si kakak, seperti melakukan kegiatan bersama-sama saat si adik bayi tidur. Jika memungkinkan, sisihkan waktu setiap hari buat si kakak sehingga ia mendapatkan perhatian penuh bunda dan ayah. Suatu waktu khusus hanya untuk dirinya yang dibuat oleh bunda dan ayah, akan dapat membantu mengurangi kebencian atau kemarahan kakak pada kehadiran bayi baru.

Ingatkan juga para kerabat dan teman-teman bahwa si kakak tidak harus selalu diajak bicara mengenai si adik bayi, mungkin ia juga ingin membicarakan hal lain selain bayi baru. Jika kerabat atau teman-teman menanyakan bentuk bantuan yang bisa mereka berikan/lakukan, sarankan kegiatan yang menyenangkan atau sesuatu yang istimewa untuk si kakak, seperti mengajaknya jalan-jalan atau bermain ke tempat favoritnya.

Mengatasi perubahan emosi dan perasaan

Kehadiran bayi baru dapat menciptakan perubahan yang banyak di rumah, beberapa anak-anak mungkin akan melakukan penyesuaian tersebut dengan susah payah.

Ajak anak-anak lebih tua untuk membicarakan perasaan mereka tentang bayi baru. Jika si kakak berubah jadi lebih rewel atau susah diatur, jangan ubah/meniadakan aturan yang telah disepakati dalam aturan keluarga, tapi pahami perasaan yang terjadi pada si kakak yang memotivasi perilaku itu. Ini merupakan tanda bahwa si kakak membutuhkan waktu lebih hanya dengan bunda/ayah.

Sumber: Kidshealth.org

Go to Top