Masalah post-partum depression alias depresi yang terjadi pada ibu yang baru melahirkan semakin diakui sebagai hal yang tidak bisa dianggap remeh. Perubahan hormon yang terjadi pada tahap kehamilan dan persalinan dianggap sebagai salah satu penyebab masalah ini. Gejala dan ciri post-partum depression beragam dan hal ini perlu Bunda awasi.
Jika tidak diatasi dengan baik, post-partum depression bahkan bisa membahayakan kesehatan serta keselamatan Bunda dan si kecil. Tapi, jangan anggap hanya Bunda saja yang bisa mengalami post-partum depression, karena ternyata Ayah pun bisa mengalaminya! Penelitian menunjukkan bahwa 3-10% pria mengalami depresi pada saat sebelum dan usai istrinya melahirkan, dengan puncak depresi biasanya terjadi antara 6 minggu hingga 6 bulan setelah kelahiran sang anak.
Seperti depresi yang terjadi pada ibu baru, depresi pada Ayah bisa disebabkan oleh masalah kurang tidur, trauma akibat masalah pada saat persalinan, stres akibat perubahan yang terjadi dalam hubungan suami istri, serta kurangnya dukungan sosial dan emosional selama tahap kehamilan dan setelah persalinan. Tapi, ada juga beberapa penyebab depresi lain yang hanya bisa ditemukan pada Ayah, di antaranya:
- Stigma bahwa pria tidak boleh mengutarakan permasalahan yang dialaminya kepada orang lain.
- Rasa khawatir karena bertambahnya tanggung jawab serta beban finansial yang terjadi akibat kehadiran bayi yang baru lahir.
- Keinginan hubungan seksual dengan sang istri yang mungkin belum terpenuhi pada tahap kehamilan dan masa awal setelah persalinan.
- Kurangnya kesempatan untuk mendekatkan diri dan membangun ikatan dengan bayi.
Masalahnya, pria cenderung lebih tertutup mengenai perasaannya dibandingkan wanita. Selain itu, para ayah biasanya tidak mendapatkan pengawasan dari dokter ataupun pihak lain yang biasa Bunda dapatkan setelah persalinan. Karena itu, gejala depresi yang mungkin dialami Ayah sering terlewat dan tidak diatasi dengan baik. Padahal, akibat dari depresi yang dialami oleh Ayah tak hanya akan mempengaruhi kehidupannya saja, tapi juga mempengaruhi seluruh anggota keluarga. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa depresi yang dialami seorang ayah pada masa kehamilan dan setelah persalinan berpengaruh pada masalah perilaku dan emosi anaknya setelah dewasa.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Pediatrics pada tahun 2011 menemukan bahwa ayah yang mengalami depresi serta masalah kesehatan mental lainnya berhubungan dengan tingkat masalah perilaku dan emosional pada anak. Selain itu, depresi yang dialami Ayah bahkan bisa menyebabkan depresi pada Bunda juga, lho. Karena itu, kalau Bunda memperhatikan adanya perubahan yang terjadi pada Ayah, misalnya nafsu makan yang berubah, kurang tidur, jadi suka menjauh dari anggota keluarga dan teman, mudah marah, serta berbagai perubahan lainnya, jangan ragu untuk membicarakannya dengan Ayah.
Bunda biasanya merupakan orang pertama yang menyadari perubahan yang terjadi pada Ayah. Dukungan pertama yang bisa diberikan keluarga dekat adalah dengan tidak mengganggap remeh depresi yang dialami Ayah. Luangkan waktu bersama Ayah untuk melakukan hal yang Ayah sukai, karena kadang depresi terjadi karena Ayah merasa bahwa semua perhatian Bunda dan anggota keluarga lain hanya tercurah pada si kecil yang baru lahir. Selain itu, depresi juga bisa terjadi karena Ayah merasa tidak mampu untuk menjadi Ayah yang baik.
Karena itu, bantu Ayah untuk membangun ikatan yang kuat dengan si kecil, misalnya mengajak Ayah untuk membantu melakukan rutinitas perawatan bayi, bermain bersama si kecil, dab lain-lain. Hal-hal sederhana ini bisa jadi dasar yang kuat untuk mengatasi depresi yang Ayah alami. Konsultasi pada psikolog juga bisa membantu mencari cara terbaik untuk mengatasi depresi serta mencegah masalah lain yang bisa ditimbulkannya. Ingat, depresi bukan hal yang bisa dianggap sepele, ya.
Sumber: webmd.com/parenting/baby/news/20130103/depressed-dads-kids pregnancybirthbaby.org.au/fathers-and-depression

