Tiap anak menangkap pelajaran dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan multiple intelligence yang ia miliki. Karena itu, tiap anak membutuhkan cara pengajaran yang berbeda pula. Pada dasarnya, tiap orang memiliki multiple intelligence. Hanya saja, kepandaian yang jadi kelebihan maupun kekurangan pada setiap orang berbeda-beda.
Kombinasi dari kelebihan dan kekurangan pada multiple intelligence yang berbeda inilah yang membentuk kepribadian dan kemampuan belajar setiap orang. Misalnya, ada 2 anak yang sama-sama memiliki kepandaian visual spasial. Tapi, anak pertama juga memiliki kepandaian linguistik serta kekurangan dalam bidang kemampuan musikal, sedangkan anak kedua juga menonjol dalam kemampuan kinestetik tubuh tapi kemampuan interpersonalnya kurang baik.
Perbedaan inilah yang membuat kepribadian dan kemampuan belajar kedua anak tersebut tidak sama persis. Karena itulah, menurut Howard Gardner, tidak ada 1 gaya pengajaran yang bisa diterima dengan baik oleh semua orang. Gaya ‘one size fits all’ tidak akan memberikan pengajaran secara maksimal pada semua anak.
Sebaliknya, gaya pengajaran sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan tiap anak. Itu sebabnya disarankan agar jumlah murid dalam 1 kelas tidak terlalu banyak, sehingga guru mengenal kemampuan setiap anak dan setidaknya menyesuaikan gaya pengajarannya dengan kemampuan anak tersebut. Selain itu, guru juga bisa mengajarkan materi-materi yang penting bagi anak dalam berbagai cara, misalnya melalui cerita, diagram, menulis, gerak tubuh, prakarya/kesenian, dan lain-lain. Tapi, pada kenyataannya kebanyakan sekolah umum di Indonesia tidak memiliki keistimewaan tersebut.
Dalam kelas yang penuh anak, semua anak diberikan 1 gaya pengajaran tertentu tanpa memperhatikan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Di sinilah peran orang tua terhadap pengajaran anak muncul. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh guru di sekolah, bisa dilakukan orang tua di rumah. Lengkapi pendidikan yang diterima anak di sekolah dengan pendidikan orang tua di rumah yang lebih sesuai dengan kemampuan dan kepribadian anak. Yang perlu orang tua ingat adalah tiap anak memiliki kepandaian dan kekurangannya masing-masing. Anak yang sulit belajar berhitung bukan berarti dia bodoh.
Mungkin saja ia kesulitan memahami pelajaran tersebut karena gaya pengajaran yang kurang cocok dengan kepandaiannya. Selain itu, bisa jadi ia memiliki kepandaian di bidang yang lain. Kalau semua orang di dunia ini jadi ahli matematika, lalu siapa yang akan menjadi penulis atau pelukis? Maksimalkan multiple intelligence yang dimiliki anak, sambil terus melatih kekurangannya. Hal ini akan membantu anak mencapai potensinya dengan maksimal.
Sumber: http://www.washingtonpost.com/blogs/answer-sheet/wp/2013/10/16/howard-gardner-multiple-intelligences-are-not-learning-styles/ http://everydaylife.globalpost.com/multiple-intelligence-theory-students-11859.html http://www.urbanschools.org/pdf/onPOINTS.multiple.intelligences.DOCUMENT.style.LETTERSIZE.pdf

